JA Teline V - шаблон joomla Форекс

DENPASAR

DENPASAR-Fajar BaliDitetapkan sebagai tersangka dugaan kasus penipuan dan pemerasan sebesar Rp 6,8 miliar, I Wayan Gede Budiasa (43) alias Yande melawan. Pria asal Ubud Gianyar itu mempraperadilankan penyidik Dit Reskrimum Polda Bali ke Pengadilan Negeri Denpasar, dan meminta ganti rugi sebesar Rp 1 miliar.

Gugatan ini disampaikan kuasa hukum tersangka Yande, John Korassa Sonbai, SH., MH, Selasa (2/11). Menurutnya, kliennya Yande mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin (30/10) lalu, terkat status tersangka terhadap klienya yang tidak sesuai prosedur hukum.

Menurutnya, Yande sendiri sudah ditetapkan tersangka oleh penyidik Dit Reskrimum Polda Bali pada  17 Oktober lalu dalam dugaan penipuan dan pemerasan terhadap korban I Gede Mahardika yang juga merupakan tersangka kasus spa mesum. Dalam perkara ini Yande bersama Muhamad Ridwan disebut melakukan tindak pidana dalam pasal 378 dan 368 KUHP yag mengakibatkan kerugian korban Rp 6,8 miliar.

John mengatakan, status tersangka terhadap kliennya tidak sah dan  penyidik tidak penyertakan dua alat bukti yang sah. Selain itu, penyidik juga tidak menjelaskan peran tersangka Yande dalam perkara ini. “Apakah sebagai pelaku utama atau membantu melakukan tindak pidana,” tegas pengacara asal Nusa Tenggara Timur itu.

Dia juga mempertanyakan kinerja penyidik yang menetapkan tersangka hanya sehari setelah membuat laporan yaitu pada 16 Oktober. Pada 17 Oktober, Yande sudah langsung ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan. “Tindakan penyidik yang super cepat dalam waktu yang super singkat untuk menetapkan tersangka adalah tindakan gegabah dan menunjukkan arogansi kekuasaan termohon (penyidik Dit Reskrimum). Ini merupakan tindak pidana penyalahgunaan kekuasaan,” tegasnya.

Dijelaskan John Korasa, dalam perkara ini penyidik sudah menetapkan tersangka lainnya yaitu Muhamad Ridwan yang merupakan pelaku utama dalam perkara ini dan rekannya Indra Iriawan (DPO). Sementara Yande dalam perkara ini hanya melakukan perintah dari istri korban Mahardika. Terkait aliran uang Rp 6,8 miliar, John Korasa mengatakan kliennya tidak tahu menahu karena semua sudah diserahkan kepada Ridwan sesuai perintah korban Mahardika.

Jhon mengaku klienya sempat menikmati uang Rp 5 juta. Namun uang tersebut sudah digunakan Yande untuk operasional Rp 3 juta dan bayar listrik rumah korban Rp 2 juta. “Klien kami juga sempat menerima cek Rp 3 miliar. Yang Rp 2 miliar diambil Ridwan dan Rp 1 miliar yang diambil Yande sudah dikembalikan kepada korban jauh sebelum korban membuat laporan,” tegasnya.

Untuk itu, dengan penetapan tersangka ini, John Korasa meminta hakim untuk mengabulkan gugatan dan menggugurkan penetapan tersangka, penangkapan dan penahanan yang dilakukan penyidik Polda Bali. “Klien kami bukan sebagai tersangka. Inilah yang menjadi dasar gugatan praperadilan terkait status tersangka, penangkapan dan penahanan yang tidak sah yang dilakukan oleh penyidik Dit Reskrimum Polda Bali," terang pengacara kondang itu.

Menurut John, jika alasan penahanan dan status tersangka yang disandang kliennya merupakan laporan model C, pihaknya menjelaskan bahwa penambahan pasal yang demikian oleh penyidik Polda Bali di luar pasal yang dilaporkan oleh pelapor Made Mahardika tidak sah dan tidak dibenarkan. “Bukankah dengan terbitnya PERKAP nomor 14 Tahun 2012 tentang manajemen penyidikan  tindak pidana yang mencabut PERKAP nomor 12 Tahun 2009 tentang pengawasan dan pengendalian penanganan  tindak pidana di lingkungan Polri, maka pasal 6 ayat 4 PERKAP nomor 12 tahun 2009 tentang laporan polisi model C telah dicabut. Artinya, sudah tidak berlaku lagi,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Reskrimum Polda Bali, Kombes Pol Sang Made Mahendrajaya yang dikonfirmasi wartawan  (2/11) mengatakan, penahanan tersangka Yande sudah dilengkapi dengan alat bukti yang sah. “Iya, ada termasuk dia terima. Dapat mobil dari kasus itu. Ya, lumayan lah dia dapat menikmati uang juga kok. Ada bukti-buktinya kok lengkap aliran dananya,” tegasnya.(hen)