JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI

Kakao (coklat) yang merupakan salah satu komoditi andalan Kabupaten Jembrana, kini pemasarannya telah merambah beberapa negara di dunia seperti, Perancis, Uzbekistan termasuk Jepang.

 

NEGARA-fajarbali.com | Meski demikian, tidak sembarang coklat yang bisa dipasarkan sekaligus masuk dalam kuota ekspor, melainkan berupa biji coklat permentasi yang notabena dinyatakan telah bersertifikat.

 Hal itu diungkapkan oleh PLT. Kadis Pertanian dan Pangan, I Gusti Putu Merthadana di sela-sela kunjungan Direktorat Jenderal Kementerian Pertanian RI, bertempat di UPH Sari Bumi Subak Abian Merta Nadi desa Gumbrih kecamatan Pekutatan, Kamis (9/11/2017). Dalam acara tersebut dilakukan penyerahan satu unit mesin pengolah Kakao serta penyerahan sertifikat mutu Kakao Jembrana telah terfermentasi.

Di hadapan Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian RI, Ir Bambang dan Wakil Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan,  Mertadana yang juga Asisten II Setda Kabupaten Jembrana mengaku, kalau petani perkebunan yang ada di Kabupaten Jembrana mampu berproduksi dalam setahunnya sebanyak 0,68 ton/ha/tahun.

“Petani yang ada di subak abian saat ini mampu menghasilkan biji Kakao dalam setiap tahunnya rata-rata sebesar 0,68 ton setiap hektarnya. Dari total produksi tersebut, petani mampu menghasilkan biji coklat fermentasi dan telah bersertifikat sebanyak 2 760 ton, "ujarnya.

Sementara Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Ir Bambang mengaku bangga atas kemampuan petani yang ada di Bali khususnya petani kakao di Subak abian Merta Nadi desa Gumbrih. Pasalnya, selain mampu melakukan tatakelola perkebunannya dengan baik sehingga produksinya meningkat,  juga menjadi komoditi andalan di Jembrana ini mampu menembus pangsa pasar di beberapa negara di dunia.

“Ini saya sangat apresiasi kepada para petani di Bali, khususnya petani Kakao yang ada di Jembrana. Meski produksi meningkat tanpa diimbangi dengan melakukan inovasi-inovasi termasuk tata kelolanya yang baik, saya yakin nilai tambah bagi petani tidak terlalu banyak mendapatkan keuntungan, “ujarnya.

Bambang juga mengingatkan kepada petani kakao untuk lebih bersemangat dalam berbudidaya tanaman perkebunan. “Petani yang ada di subak ini (Merta Nadi, red) saya harapkan untuk lebih bergairah membudidayakan tanaman Kakao. Agar produksi terus meningkat petani saya harapkan selalu berkoordinasi dengan PPL, apalagi di UPH Sari Bumi desa Gumbrih Kecamatan Pekutatan telah kita bantu melalui Kementerian Pertanian RI berupa mesin pencacah biji kakao, bahkan dengan peralatan yang cukup sempurna ini tentu akan mampu menghasilkan prodak siap saji yang siap dipasarkan,“ tegasnya.

Dengan semakin bergairahnya para petani Kakao, kedepan kata Bambang, Komoditi ini tentu bisa dijadikan sebagai wisata agro. “Dengan tata kelola perkebunan yang baik tentu akan menjadi inacaran para wisatawan untuk melihat dari dekat keberadaan tanaman holtikulura itu sendiri. Di sini (Jembrana, red) sangat potensial memiliki destinasi wisata yang cukup menjanjikan. Jika destinasi itu kita kelola dengan menggairakan para petani untuk meningkatkan tatakelola perkebunannya tentu akan sangat menarik untuk para wisatawan. Selama ini kita belum melihat wisatawan  jika berekreasi ke Indonesia  ada yang minum kopi dibawah pohon coklat atau pohon kelapa padahal produksi yang dihasilkannya itu telah dinikmatinya," tegasnya.

Masalah besar yang saat ini dihadapi para petani di Indonesia, kata Bambang, ketidakmampuan petani untuk menghasilkan produksi dalam skala besar. “Kata kunci untuk mengatasi masalah petani  itu yakni, mempersatukan para petani. Disini (Bali, red) sebagi contoh. Para petani telah dihimpun melalui wadah subak-subak abian. Dengan demikian akan tersedia produk dalam skala besar untuk siap dipasarkan. Ini tentu akan bisa meningkatkan pendapatan para petani di desa-desa," tegasnya.

Sementara Wakil Bupati I Made Kembang Hartawan minta, kedepan semua subak abian yang ada di Kabupaten Jembrana dapat tersertifikasi. Pasalnya, impor  biji kakao yang saat ini telah merambah beberapa negara di dunia standarnya harus telah tersertifikasi. “Selain peningkatan produksi kita harapkan nanti semua subak abian yang ada di Jembrana bisa tersertifikasi. Kita selalu menjaga mutu dan kwalitas. Biji kakao yang kita ekspor harus memenuhi standar. Selain itu, melalui inovasi yang telah dilakukan oleh UPH Sari Bumi desa Gumbrih kecamatan Pekutatan dengan olahan biji coklat sehingga menjadikan  produksi siap saji tentu akan mampu menambah nilai dan pendapatan para petani kakao di desa, “ harapnya. (prm)