JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG

SEMARAPURA-Fajar Bali | Warga Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Karangsem kini bersedih. Sebab Upacara Ngusaba Goreng di Pura Puseh, Banjar Geriana Kangin tak bisa digelar. 

Sejak Gunung Agung berstatus awas, wilayah tersebut ditetapkan sebagai Kawasan Rawan Bencana (KRB). Sehingga warganya harus mengungsi. Sebagai permintaan maaf, Selasa (17/10) hari ini warga akan melangsungkan Upacara Guru Piduka.

Senin (16/10) dengan wajah sedih, Ni Nyoman Tarni, seorang pengungsi asal Banjar Geriana Kangin menuturkan, Ngusaba Goreng di Pura Puseh setempat seharusnya digelar setiap setahun sekali. Tepatnya setiap Purnama Kapat yang tahun ini jatuh pada Hari (5/10) lalu. Namun, karena hari itu bertepatan dengan Ingkel Wong,  maka Ngusaba Goreng diundur pada Purnama Kalima, Sukra Paing Wuku Dunggulan. Sayangnya, meski sudah diundur pada tanggal 3 November mendatang, Ngusaba tersebut akhirnya batal digelar.

 Berdasarkan keputusan bersama, sebagai permintaan maaf, warga akan menggelar Upacara Guru Piduka di Pura Puseh setempat. Upacara tersebut akan dilangsungkan Selasa (17/10) hari ini. Untuk persiapan, sejak kemarin pagi warga Desa Selat Duda Utara yang mayoritas mengungsi di Banjar Lebah, Klungkung nampak sudah melakukan berbagai kegiatan. Para perempuan sibuk mejejahitan menyiapkan sarana upacara. “Kalau hari biasa tiga bulan sebelum Ngusaba krama sudah membuat upacara persiapan,” tuturnya.

 Walau tak tahu makna hakiki Ngusaba Goreng ini, namun Tarni menegaskan upacara ini merupakan warisan leluhur. Sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai karunia yang sudah diberikan selama ini.

Dalam Ngusaba Goreng ini, seluruh sarana upacara biasanya terdiri atas berbagai macam jaja (kue) yang digoreng. Seperti jaja gina, uli, serta berbagai kue kreasi yang dibuat sendiri oleh warga setempat. "Sekarang karena masih di pengungsian, Ngusaba Goreng tidak bisa dilangsungkan," ujarnya sedih.

Di samping itu, berdasarkan keputusan bersama saat menghaturkan Upacara Guru Piduka pun tak semua warga bisa ikut serta. Hanya beberapa orang saja sebagai perwakilan. Sisanya, tetap tinggal di pengungsian. Sebelum bersembahyang ke Pura Puseh pun, warga terlebih dahulu berkoordinasi dengan petugas keamanan setempat. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sepanjang Gunung Agung bertatus awas.

Jumlah warga yang mengungsi di Posko Banjar Lebah sebanyak 193 jiwa yang terdiri atas 56 KK. Mayoritas warga di pengungsian tersebut berasal dari Dusun Tukad Sabuh, Desa Selat Duda Utara. W-019