JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG

SEMARAPURA-Fajar Bali | Minggu (22/10), tepat sebulan Gunung Agung berstatus awas dan puluhan ribu warga Kabupaten Karangasem mengungsi ke Klungkung. Tak terhitung logistik yang sudah dihabiskan, demikian juga dengan biaya perawatan para pengungsi di rumah sakit. Ironisnya, kini piutang dana perawatan di RSUD Klungkung makin membengkak. Sudah mencapai Rp 1, 02 miliar dan belum jelas pelunasannya.

Direktur RSUD Klungkung, dr. I Nyoman Kesuma menjelaskan, selama satu bulan ini pihaknya sudah mengeluarkan anggaran Rp 1.024.000.000. Dana sebanyak itu digunakan untuk membiayai perawatan pasien pengungsi Gunung Agung yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Lantaran belum ada kepastian mengenai pelunasan piutang tersebut, dr Kesuma mengatakan, selama ini RS menggunakan dana cadangan. Jumlahnya sekitar Rp 2 miliar.

Untuk selanjutnya, seluruh dana yang sudah dikeluarkan oleh RSUD Klungkung akan dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Yang mana, Diskes Provinsilah yang nanti memiliki kewenangan untuk melaporkan hal tersebut ke pusat. " Hal ini akan kita koordinasikan lagi dengan pihak Dinas Kesehatan Provinsi Bali.” tegasnya. Menurutnya saat ini pelayanan kesehatan bagi para pengungsi masih berjalan normal. Meski tak mengantongi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), semua pasien pengungsi dilayani gratis.

Salah seorang keluarga pasien pengungsi di RSUD Klungkung, I Wayan Kari (45) menuturkan, sujak tinggal di pengungsian ayahnya I Ketut Kresni lebih mudah terserang penyakit. Padahal ayahnya yang berasal Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Karangasem ini semula hanya sakit asam urat saja. Tapi sejak tinggal di pengungsian di wilayah Kecamatan Sidemen, ia terserang diare hingga harus dirawat inap di RSUD Klungkung. Beruntung, biaya perawatan ditanggung penuh oleh pihak rumah sakit. Sehingga ia yang tak bisa bekerja selama di pengungsian tidak perlu memikirkan masalah biaya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dr. Nyoman Kesuma mengungkapkan untuk masalah biaya kesehatan pengungsi, yang memiliki kartu BPJS, otomatis akan ditanggung BPJS. Sedangkan untuk yang tidak memiliki kartu jaminan kesehatan tersebut, akan tercatat sebagai pasien umum. dr. Kesuma mengakui, jumlah pengungsi Gunung Agung yang dirawat di RSUD Klungkung cukup banyak. Sayangnya, hanya sedikit yang memiliki jaminan kesehatan (BPJS).

Sesuai data hingga tanggal 30 September lalu saja, biaya rawat jalan dan rawat darurat pasien pengungsi yang tak memiliki kartu BPJS mencapai Rp 72 juta. Sedangkan biaya rawat darurat dan rawat inapnya hingga tanggl 1 Oktober mencapai Rp 180 juta. Untuk menutupi piutang biaya perawatan tersebut, dr. Kesuma mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Keputusannya, klaim biaya perawatan tersebut diserahkan ke Dinas Kesehatan Provinsi, untuk selanjutnya diteruskan ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB).

"Pasien pengungsi yang memiliki kartu BPJS ditanggung BPJS Kesehatan sedangkan pasien yang tidak memiliki jaminan di klaim ke Dinas Kesehatan Provinsi untuk diteruskan ke BNPB pusat dengan tarif sesuai pasien BPJS," ujar dr. Kesuma. W-019