JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KARANGASEM
AMLAPURA-Fajar Bali | Membludaknya gelombang pengungsi masyarakat Karangasem mencari tempat aman terus saja terjadi. Hilir mudik kendaraan yang membawa barang-barang milik warga yang memilih mengamankannya di tempat aman. Arua pengungsi tidak saja dari masyarakat di zona jarak 6 kilometer maupun 9 kilometer dari kawah Gunung Agung. Tetapi diluar zona itu pun masyarakat ikut mengungsi. 
 
 
Padahal, yang mesti harus dikosongkan adalah mereka yang berada di zona bahaya dari lahar panas yakni pada KRB III dan II. Sementara diluar itu masih dal tahap aman namun tetap waspada. Koordinator pos Pendamping Nasional, BNPB, Wisnu Wijaya, Rabu (27/9) mengatakan pembuatan zona tersebut untuk memudahkan mendata para pengungsi. Disebutkan, pihaknya saat ini sedang menyusun peta yang akan di sebar kepada masyarakat sehingga masyarakat yang berada di luar zona 12 kilometer mendapatkan informasi yang jelas. "Yang berbahaya adalah 6 kilometer, 9 dan 12 kilometer. Bahkan, jarak 6 dan 9 kilometer harus di kosongkan," ujar Wisnu Wijaya, yang juga Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB. 
 
 
Disebutkan, untuk diluar zona 6 kilometer dan 9 kilometer, semestinya belum perlu mengungsi. Karena menurutnya, dari peta kondisi desa Budakeling keatas sangat berbahaya, sehingga harus di kosongkan. "Termasuk Desa Bebandem keatas, di luar itu masih cukup aman namun tetap waspada," ujarnya. 
 
 
Ancaman untuk diluar zona itu, menurut Wisnu Wijaya, ancaman di luar zona itu malah baru akan dirasakan saat setelah terjadi erupsi. Karena, saat itu ancamanya adalah lahar dingin. Saat letusan, pihaknya memperkirakan materialnya masih berada di luar zona aman, namun ketika ada dorongan air dari atas akan memunculkan lahar dingin. "Dampak di luar zona 6 dan 9 kilometer itu saat erupsi yang membahayakan adalah abu vulkanik dann lahar dingin, maka disaat itulah perlu mencari tempat aman," ujarnya lagi. 
 
 
Ancaman awan panas, sebut Wisnu Wijaya, kecepatanya bisa 200 kilometer perjam. Ia pun mengakui, jika awan panas sulit diantisipasi. Namun untuk abu vulkanik bisa antisipasi dengan memakai masker yang dibasahi atau kain basah sebagai penutup hidung. "Langkah yang paling aman adalah tidak keluar rumah dan menutup lubang-lubang dalam rumah dengan kain yang basah. Selain itu, atap rumah juga harus sering dibersihkan karena abu vulkanik sangat berbahaya," ujarnya lagi. 
 
 
Pihaknya pun menghimbau kepada masyarakat yang berada di luar zona agar tetap tenang dan tetap meningkatkan kewaspadaan. Yang terpenting, kata Wisnu Wijaya, masyarakat jangan panik. W-016.