JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KARANGASEM

 

AMLAPURA-Fajar BaliPasca status Gunung Agung dinaikkan ke level awas, ratusan peternak sapi yang bermukim di wilayah radius bahaya di lereng Gunung Agung berbondong-bondong menjual ternak sapinya. Bahkan, sapi milik warga ini pun terpaksa dijual sangat jauh dari harga normal ,mengingat saat itu warga sedang panik.

Namun, angin segar bagi peternak sapi akhirnya datang dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Ternak Kementerian Pertanian RI, I Ketut Diarmita, yang menyatakan sapi milik peternak bisa saja dibantu oleh pusat asalkan ada bukti yang jelas. Hal itu disampaikan usai bertemu Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri di Pos Penanganan Darurat Tanah Ampo, Karangasem, Sabtu (4/11) lalu.

 Menurut Diarmita, para peternak yang sudah terlanjur menjual ternaknya dengan mengajukan permohonan bantuan yang dilengkapi dengan bukti-bukti. Pihaknya sendiri, kata Diarmita, memiliki anggaran pergantian sapi sebanyak 200 ekor. Anggaran itu, diperuntukkan untuk para pengungsi yang terpaksa menjual sapi-sapi mereka. “Itu dianggarakan untuk 2018 mendatang, mereka juga harus melengkapi bukti yang bisa dipertanggungjawabkan dengan pengajuan melalui Dinas Peternakan setempat,” ujarnya.

 Namun, pihaknya juga menegaskan kalau anggaran yang disiapkan oleh pusat nantinya diberikan kepada peternak bukan berupa uang. Akan tetapi, pemerintah pusat melalui dinas peternakan kabupaten yang akan memberikan berupa ternak sapi. Dikatakan Diarmita, para peternak diharapkan tetap mengajukan proposal melalui dinas peternakan kabupaten. “Pusat akan menyerahkanya kepada dinas peternakan kabupaten,setelah itu barulah ke peternak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Karangasem, I Wayan Supandi mengatakan, para peternak yang sedang mengungsi memang menjadi prioritas untuk di bantu. Selain bantuan ternak sapi yang sudah terlanjur di jual karena panik,pihaknya juga memperjuangkan agar ternak sapi yang mati maupun patah saat diangkut juga dapat bantuan. Untuk memproses itu,pihaknya pun saat ini sedang menyiapkan data yang pasti berapa jumlah ternak yang mati maupun patah saat diangkut. “Ini juga akan kita perjuangkan ke pusat, bagaimana pun juga mereka sangat tergesa-gesa karena panik, apalagi sebagian besar peternak merupakan sapi tidak miliknya,” ujar Supandi.

 Seperti diketahui,warga yang bermukim di wilayah zona bahaya harus merelakan menjual ternak sapinya dengan harga yang jauh dari harga standar. Hal itu dilakukan karena para peternak harus mengungsi. Bahkan, harga sapi yang semestinya senilai Rp 15 juta, harus dijual dengan harga setengahnya. (bud)