JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR

GIANYAR-Fajar Bali | Harga bahan bangunan yang didatangkan dari Galian C seperti batu, pasir dan koral harganya sudah beranjak naik drastis. Hal ini dipengaruhi semakin sedikitnya truk galian c yang beroperasi, mengingat ditetapkannya status Gunung Agung menjadi level IV (awas). Sedangkan pengusaha yang biasanya menjual sebagai pengepul juga sudah kehabisan stok material.

 

Salah satu pengepul material Galian C berupa pasir, koral dan batu kali di Desa Lebih, Agus SastraWiguna, Kamis (28/9) menyebutkan sebelum ditetapkan menjadi status awas, pasokan material masih normal. Baik pasokan dari Karangasem dan penjualan normal, “Ada barang datang dan ada terjual,” ujar Sastra Wiguna. Sedangkan harga pasir halus biasanya terjual Rp 1,5 juta per truk, kini naik menjadi Rp 2,5 juta. Untuk batu kali yang biasanya harganya Rp 1,8 juta per truk, kini menjadi Rp 3 juta per truk. Hal ini karena pasokan sudah sangat menipis dan sejak Kamis sudah tidak ada kiriman lagi dari Karangasem.

Berbeda dengan Sastra Wiguna, usaha batako Muliana menyebutkan kelangkaan pasir untuk bahan batako juga menipis. Kiriman pasir bahan batako sudah tidak ada sejak Sabtu lalu, sehingga pembuatan batako dihentikan untuk sementara waktu sampai kondisi normal. “Supir saat ini sudah tidak berani lagi dating ke Karangasem Kubu, apalagi mengambil material pasir di kaki Gunung Agung,” terangnya. Beberapa supir truk memilih tidak beroperasi dan ada sebagian sudah menjadi pengungsi.

Biasanya dalam sehari usahanya bias mencetak 500-800 biji batako. Hanya saat ini produksinya sudah jauh berkurang bahkan akan dihentikan. “Sama saja, biar batako ada, kalau pasir untuk membangun tidak ada, juga tidak ada yang beli,” bebernya. Untuk batako, per bijinya dijual Rp 2.100 dan kini dijualnya Rp 2.400 per batako. “Konsumen banyak yang mengeluh, namun saya jelaskan kondisinya. Bahkan tidak lebih dari tiga hari ini kami juga tidak berjualan, karena tidak ada dagangan,” tutupnya.

Disisi lain Kadis PU Gianyar, Nyoman Nuadi, Kamis kemarin mengakui kalau sejumpah proyek fisik pemerintah terganggu. Hal ini karena pasokan material proyek seperti batu kali, pasir dan koral sudah sangat menipis bahkan langka di lapangan. “Bahan material bangunan yang bersumber galian C sudah langka, karena tidak tidak ada truk yang beroperasi,” terang Nyoman Nuadi. Dikatakannya, ada sejumlah proyek yang masih berjalan seperti biasa, karena masih memiliki stok bahan. “Belum ada proyek yang berhenti, proyek fisik masih jalan karena masih memiliki bahan untuk dikerjakan,” terangnya.

Sampai saat ini menurutnya sejumlah rekanan mesti menyelesaikan pekerjaan sesuai termin proyek. “PU sendiri belum bias mengambil kebijakan soal pengehntian proyek. Walau terjadi bencana atau istilahnya force mayour, mesti sesuai regulasi yang jelas ditetapkan pemerintah,” sebutnya. Dijelaskannya, rekanan yang menggarap proyek PU berupa fisik sudah dipanggil dan diharapkan terus menyelesaikan pekerjaannya. Selain mesti mengusahakan material juga diharapkan distributor bahan banguna tidak melakukan penimbunan.  Diakuinya, kelangkaan material ini terjadi merata di seluruh Bali. Mengingat hampir semua material didatangkan dari Karangasem.W-010