JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR

GIANYAR-Fajar Bali | Demi menghilangkan rasa bosan dan beban psikologis, pemuda dan pemudi yang berada di lokasi pengungsian dicarikan pekerjaan. Permintaan pekerjaan ini dating secara spontan oleh pengungsi, namun belum semuanya mendapat pekerjaan. Kondisi ini terjadi di Posko pengungsi DPC PDIP, Gianyar. Sampai Selasa (26/9), sudah 12 warga pengungsi mendapat pekerjaan, baik sebagai penjaga took atau buruh bangunan.

Koordinator Posko DPC PDIP, Wayan Raharja, Selasa siang kemarin menyebutkan di poskonya terdapat 207 pengungsi. Sebagian besar berasal dari Desa Tulamben dan Desa Selat Duda, Karangasem. Dikatakan Raharja, sebanyak tujuh pengungsi pria sudah bekerja sebagai buruh bangunan, sesuai dengan keahliannya dan lima orang sebagai penjaga toko di seputaran Sukawati dan Ubud. Raharja sendiri berharap bila ada pengusaha yang belum memiliki tenaga kerja, baik buruh bangunan dan pekerjaan lain, diharapkan bisa menampung tenaga kerja dari pengungsi. “Kami berharap ada yang bisa menampung tenaga kerja pengungsi,“ harap Raharja.

 Raharja sendiri menjelaskan dengan mendapat pekerjaan, warga pengungsi yang masih sehat akan dapat menghilangkan beban psikologis dan melupakan sejenak derita yang dialami. Mengingat dengan hanya duduk diam, maka pikiran akan semakin sumpek dan selalu ingat dengan rumah. “Ini bukan memaksa, permintaan ini datang spontan dari pengungsi. Makanya kami hubungi teman dan kerabat yang kebetulan punya proyek atau toko,“ bebernya.

 Bahkan pengungsi di Posko PDIP sendiri diojelaskan Raharja diberikan keleluasaan dengan memasak sendiri dan membersihkan kamar dan halaman. “Kami beri keleluasaan, memasak sendiri dan pekerjaan lainnya, sehingga dianggap seperti di rumah sendiri,“ jelasnya lagi. Sedangkan kebutuhan logistik, sampai siang kemarin sudah berlebih, hanya ada beberapa kebutuhan lain seperti sikat gigi, handuk dan selimut belum memadai.

Ditempat terpisah, Lansia diduga mengalami depresi dirujuk ke Posko Induk Sutasoma, Sukawati. Pria ini ditemukan duduk di emperan toko dan petugas lapangan sangat sulit mengajak berkomunikasi. Dugaan sementara, Lansia ini salah satu pengungsi Gunung Agung yang identitasnya belum diketahui.

 Lanasi ini ditemukan di depan warung milik Nyoman Karta saat akan membuka toko. „Saat akan membuka toko, ketiduran di emper. Kami bangunkan paksa. Ditanya nama dan alamat tidak menyahut,“ jelas Karta. Mencagah hal-hal yang tidak diinginkan, Karta melaporkan ke Polsek Sukawati guna mendapat penanganan. Aparat Polsek Sukawati juga gagal mendapatkan identitas Lansi tersebut yang akhirnya Lansia ini digiring ke Posko Pengungsian.

 Kadissos Gianyar, Made Watha menyebutkan Lansi tersebut untuk sementara diajak di pengungsian. “Kami ajak dulu di Posko, toh tidak mengganggu dan kami berusaha mengajak berkomunikasi,“ jelas Made Watha. Dirinya tidak berani memastikan apakah Lansia tersebut pengungsi atau orang dengan gangguan jiwa. „“Sementara kami sebut Mr X dan bila mengalami gangguan jiwa, kami rujuk ke RSJ Bangli,“ tutup Watha.W-010