JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BANGLI

BANGLI-Fajar Bali | Hujan lebat di Bangli menimbulkan banyak bencana alam seperti pohon tumbang dan longsor. Bencana paling dahsyat yakni longsor sebuah tebing (tegalan) milik warga, di Tempek Kangin, Desa Demulih, Rabu (18/10) sekitar pk.13.00 Wita hingga menutup jalan menuju rumah penduduk. Bahkan longsor nyaris menimbun rumah warga di bagian timur. Longsor sudah sering terjadi, namunkali ini diakui yang paling dahsyat.

Ketinggian mencapai sekitar 30 meter, dengan ketebalan sekitar 6 meter, kesamping sekitar  12 meter. Akibat longsoran menutup jalan, maka akses jalan menjadi tertutup. Sekitar 35 KK warga sekitar terisolir. Untuk keluar masuk rumah mereka terpaksa harus melalui jalur tikus ke semak-semak di bagian utara. Demikian juga halnya dengan anak-anak sekolah. Pihak terkait, BPBD, Camat Susut, AA Bintang Arisutari, aparat Desa Demulih sudah turun ke lokasi beberapa jam setelah peristiwa. Namun demikian sampai, Kamis(19/10) timbunan belum dievakuasi, karena masih harus menunggu alat berat yang bakal ditangani Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangli. Diperkirakan timbunan mencapai sekitar 100 truk.

Salah seorang warga yang rumahnya terancam longsor, Ketut Apriawan, Kamis (19/10) menuturkan kalau dirinya sampai mengungsi malam hari setelah peristiwa, lantaran takut dengan longsor susulan. “Tyang sampai ngungsi ke rumah keluarga malamnya, takut bakal longsor lagi, soalnya tebing itu sudah sering longsor”, ujarnya. Dia mengatakan longsor sekarang paling dahsyat. Selain menimbun jalan, longsoran juga menghancurkan palinggih di sudut barat laut rumahnya, dan longsoran menimbun halaman rumahnya.”Saat itu hujan lebat, beberapa menit kemudian saya mendengar suara menggelegar karena longsor itu”, sahut istrinya Ni Komang Mertaasih.

Perbekel Desa Demulih, Nyoman Wijana ketika ditanya di kantornya, Kamis (19/10) dia mengatakan kalau tebing (tegalan) milik warganya sudah sering longsor. Namun longsor yang terjadi Rabu (18/10)paling dahsyat. Peristiwa itu menyebabkan warga di sekitar 35 KK (di Tempek Kangin) terisolir. “Mereka tak bisa melewati jalan karena tertimbun longsoran, sekarang mereka terpaksa melawati jalur tikus ke semak-semak untuk bisa ke luar dan masuk rumah, termasuk anak-anak sekolah juga lewat jalur tersebut”, ujar Wijana. Diakui timbunan belum bisa dievakuasi, karena mesti menggunakan alat berat mengingat tingginya timbunan. Sedikitnya timbunan itu ada 100 truk.Sedangkan alat berat dari BPBD yang bakal digunakan masih sedang digunakan di Kecamatan Kintamani. “Pengerukan longsoran belum bisa dilaksanakan, soalnya alat berat dari BPBD masih di Kintamani,”, tambah Wijana. (sum)