JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BULELENG

SINGARAJA–Fajar Bali | Dua ibu hamil yang berasal dari Banjar Dinas Belong, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem melahirkan bayi saat mengungsi di wilayah Buleleng, Senin (25/9). Sayang, satu bayi meninggal saat dalam kandungan.

Dua ibu hamil ini dirujuk langsung dari Puskesmas Tejakula I menuju RSUD Buleleng untuk mendapatkan pelayanan medis yang tepat. Namun sayang satu diantara dua bayi dinyatakan meninggal dunia dalam kandungan. Bayi yang meninggal itu yakni milik pasangan Kadek Witama (18) dan Ni Luh Sekar Dwipayani (17) warga Banjar Dinas Belong, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem.

Bayi Sekar yang dinyatakan meninggal dalam kandungan kini berumur 25 minggu, merupakan buah cinta pertama keduanya. Pasangan muda yang baru menikah sebulan ini, baru mengetahui anaknya sudah tiada, saat tiba di pos pengungsian Minggu (24/9) sekitar pukul 09.00 wita dan memeriksakan diri di posko kesehatan tenda pengungsian di Desa Les, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Ia yang ditemui di ruang persalinan RSUD Buleleng, didampingi suaminya nampak masih lemas menahan kontraksi akibat obat perangsang yang diberikan tim medis, untuk mengeluarkan janin dalam kandungannya yang sudah tak bernyawa. Hanya saja menurut penuturan Witama, istrinya sudah tidak merasakan gerakan bayi dalam kandungannya sejak berangkat mengungsi dari rumahnya di Desa Ban menuju Desa Tembok.

”Istri saya sudah tidak merasakan gerakan bayi di perutnya, saat sampai di tempat mengungsi langsung diperiksakan ke pos kesehatan, padahal sebelumnya dalam kondisi baik-baik saja, di rumah juga tidak ada kerja berat,”katanya.

Saat tiba di Puskesmas Tejakula I dan diperiksa dokter jaga, Sekar langsung dirujuk ke RSUD Buleleng dan memberitakan bahwa bayi dalam kandungannya sudah meninggal dunia. Rencananya setelah anak pertamanya lahir, Witama berencana akan langsung membawanya ke Desa Ban, jika situasi memungkinkan dan langsung dikubur dan diupacarai.

”Kemungkinan kalau lahir hari ini atau besok, kalau memungkinkan langsung dibawa pulang dan dikubur, kebetulan di rumah masih ada keluarga yang belum mengungsi,”ungkapnya.

Berbeda dengan Sekar, ibu hamil Wayan Neka (32) yang berasal dari banjar dan desa yang sama melahirkan dengan selamat anak keenamnya. Ia yang sejak Kamis (21/9) lalu mengungsi di rumah saudaranya di Banjar Dinas Gretek, Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula Buleleng, merasakan kontraksi pada kehamilannya yang sudah memasuki usia sembilan bulan pada Minggu (24/9) petang kemarin. Ia yang diantar suaminya Ketut Masa (35) ke Puskesmas Tejakula I, juga langsung dirujuk ke RSUD Buleleng saat itu juga.

”Sakitnya sudah sejak pagi jam sembilan, terus saya diajak periksa ke Puskesmas, malah dirujuk kesini,”ujar Neka yang ditemui di ruang persalinan RSUD Buleleng.

Sementara itu Dirut RSUD Buleleng, dr Gede Wiartana mengatakan hingga saat ini RSUD Buleleng baru menerima tiga pasien dari pengungsi dan semuanya adalah ibu hamil. Disinggung soal kematian janin dalam kandungan Sekar, dari hasil analisis medisnya pihaknya belum dapat memastikan penyebab pastinya. Tetapi Wiartana menegaskan bahwa kematian bayi dalam kandungan Sekar tidak ada hubungannya dengan erupsi Gunung Agung.

”Dari segi fisik ibu bayi dalam keadaan sehat dan tenang, secara psikis juga tidak stres, jadi belum dapat diketahui pasti penyebab kematian bayi dalam kandungan. Secara medis memang dapat disebabkan beberapa faktor, bisa dari ibunya atau dari bayinya yang mungkin ada kelainan,” jelasnya. Hingga sore kemarin Sekar masih menjalani masa induksi untuk mendorong bayinya keluar. Hanya saja menurut Wiartana hingga sore kemarin belum ada tanda-tanda bukaan di jalan lahir secara normal pada pasien. W-008